gtrees.net

Cerita Pria Bayar Rp 85 Juta demi Perbesar Kelamin, Endingnya Plot Twist

Diet, fitness and health concept presented by yellow banana wrapped in measure tape isolated on yellow paper background
Ilustrasi penis. (Foto: iStock)

Jakarta -

Bagi sebagian besar pria, ukuran alat vital kerap menentukan kejantanan. Oleh karena itu tidak sedikit yang melakukan prosedur tertentu untuk memperbesar penisnya.

Seperti yang dijalani pria di Italia yang menjalani operasi untuk memperbesar kelaminnya demi 'kejantanan'. Sayangnya, hasil dari operasi tersebut malah membuatnya impoten.

Diberitakan Oddity Central, pria berusia 40 tahun membayar 5 ribu euro atau sekitar Rp 85 juta untuk menjalani prosedur pembesaran penis, namun setelah sekitar satu bulan dia akhirnya menelepon dokter untuk mengeluh tentang ketidaknyamanan yang dia rasakan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dokumen pengadilan yang diperoleh media berita Italia, pria tersebut menjalani dua kali operasi lipofilling untuk memindahkan lemak dari berbagai bagian tubuhnya ke penisnya demi menyesuaikan bentuknya. Sayangnya, tindakan tersebut tidak memberikan efek yang diinginkan, karena alat kelamin pria tersebut tidak mempertahankan bentuk dan volume yang diharapkan.

Surat kabar Italia La Repubblica edisi Florentine menulis bahwa pria tersebut diduga menjalani beberapa prosedur lain untuk memperbaiki kerusakan pada alat kelaminnya, namun hal itu justru memperburuk keadaan. Menurut para ahli yang dikutip dalam dokumen pengadilan, pria itu menjalani prosedur yang telah dilarang.

ADVERTISEMENT
Baca juga: Uji Khasiat Viagra, Penis Pria 65 Tahun Ini Justru Terjepit Botol Plastik

Setelah menjalani 12 kali operasi, penisnya dilaporkan cacat dan tidak bisa digunakan. Saat itu lah dia memutuskan untuk menuntut dokter yang menanganinya.

Di pengadilan, dokter yang dituduh membela diri dengan mengklaim bahwa pasien awalnya puas dengan hasil operasi, bahkan mengiriminya video sebagai bukti dan bahwa ia telah menandatangani formulir persetujuan sebelumnya. Namun, pengadilan Pistoia menolak klaimnya, memutuskan bahwa pasien "tidak menyadari risiko fisik yang dihadapinya," dan menambahkan bahwa kepuasannya terhadap hasil estetika dari operasi tersebut sama sekali tidak relevan, karena "itu adalah tugas profesional kesehatan. untuk mengevaluasi keberhasilan prosedur".

Kedua klinik yang terlibat dalam kasus ini berusaha menghindari tanggung jawab dengan mengklaim bahwa mereka hanya "meminjamkan" fasilitas mereka kepada dokter, namun hakim memutuskan bahwa mereka mendapat manfaat dari pekerjaan dokter dan berbagi tanggung jawab.



Simak Video "Klinik Pengobatan Mak Erot Juga Bisa Tangani Keluhan Mr P Patah"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat