gtrees.net

Nasib Tragis Pria Alami Mati Otak Gegara Cabut Rambut di Area Selangkangan

Medical illustration of a brain with stroke symptoms
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/peterschreiber.media

Jakarta -

Seorang pria di Amerika Serikat hampir meninggal karena mati otak. Hal ini diduga terjadi karena mencoba mencabut rambut yang tumbuh di area selangkangannya.

Setelah itu, Steven Spinale yang saat itu 36 tahun mendadak sakit parah. Namun, banyak rumah sakit yang menolak untuk merawatnya karena dianggap mengada-ada.

"Dia (Steven) ditolak di banyak rumah sakit (yang mengira) dia mengada-ada. Dia muntah darah dan mereka masih mengirimnya pulang," ungkap saudara perempuannya, Michelle Spinale.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Keesokan harinya, adik saya harus menelepon 911 karena dia tidak bisa bernapas," sambungnya yang dikutip dari The Sun.

Michelle mengatakan selama satu bulan dokter belum bisa menemukan penyebab kondisi yang dialami Steven. Dokter juga melihat adanya pendarahan internal dari suatu tempat.

ADVERTISEMENT

"Yang mereka tahu hanyalah dia (Steven) mengalami pendarahan internal entah dari mana," tulis Michelle.

"Kami tidak tahu bahwa itu akan menjadi kekhawatiran terkecil."

Saat diperiksa lebih lanjut, dokter menemukan bahwa Steven memiliki bakteri langka di aliran darahnya yang mematikan semua organ tubuhnya. Akibatnya, kondisi Steven menurun dengan cepat.

"Dia terjangkit bakteri langka yang merusak seluruh tubuhnya dan mematikan semua organ tubuhnya," kata Michelle.

Bakteri tersebut membuat tubuh Steven mengalami syok septik, yaitu saat tekanan darah turun ke tingkat yang sangat rendah setelah infeksi terjadi. Tubuh Steven menyerah pada serangkaian masalah seiring berjalannya waktu.

Ia tertular influenza A, tertular pneumonia di kedua paru-parunya, dan mengembangkan sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS) yang membuat paru-parunya tidak dapat bekerja.

"Dokter kemudian menemukan bahwa infeksi bakteri septik telah mencapai jantungnya dan 'menghancurkannya'," lanjut Michelle.

Namun, saat itu Steven tidak bisa menjalani operasi karena kondisinya yang terlalu kritis. Sebagai pengobatan, Steven diintubasi dan ditempatkan dalam keadaan koma yang diinduksi secara medis.

Saat itu, dokter menyebut kesempatan hidup Steven hanya empat persen. Itu tentunya membuat keluarganya sangat patah hati.

"Untuk membantu mengatasi ARDS, dia diikat ke rotobed - tempat tidur rumah sakit khusus yang dapat diputar - selama dua minggu, yang membuatnya terbalik 'seperti ayam rotisserie', kata Michelle.

NEXT: Jalani operasi jantung terbuka

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat