gtrees.net

Kronologi Binaragawan Alami Jantung Kolaps, Nyeri Dada usai Minum Air Dingin

Kisah Binaragawan Alami Jantung Kolaps, Diduga gegara Sering Minum Air Dingin
Kronologi binarawan AS yang mengalami penyakit jantung langka gegara air dingin. (Foto: Instagram/@ifbbpro_frank)

Jakarta -

Franklin Aribeana mengalami penyakit jantung langka sampai dirawat di rumah sakit lebih dari 20 kali. Hal ini diduga karena kebiasaan minum air dingin setelah gym.

Kondisi itu baru disadarinya saat usianya 18 tahun. Saat itu, ia tengah berada di tempat gym.

"Saya meneguk air dingin. Saat kembali tenang, saya merasakan bunyi seperti dentuman," ungkap pria bernama Franklin Aribeana itu, dikutip dari NYPost.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pria 35 tahun itu memang memiliki kebiasaan minum air dingin setiap selesai gym untuk menyegarkan tubuhnya. Namun, setelahnya jantungnya berdetak sangat cepat.

Menyadari ada yang tidak beres pada jantungnya, Aribeana memutuskan untuk konsultasi ke dokter. Tetapi, perjalanannya itu tidak mudah.

ADVERTISEMENT

Setelah 15 tahun dan 25 kali berkonsultasi dengan dokter, binaragawan itu baru mengetahui penyebabnya. Ia juga menjalani serangkaian tes genetik.

Hasilnya, Aribeana mengalami kelainan genetik yang menyebabkan kondisi fibrilasi atrium. Kondisi itu adalah salah satu jenis aritmia yang terjadi karena gangguan pada sinyal listrik, yang memicu detak jantung tidak sinkron.

Dokter menduga aritmia yang dialaminya dipicu air dingin yang menyerang saraf vagus, bagian sistem saraf yang mengatur detak jantung. Itu disebabkan reaksi 'diving reflex' atau kondisi saat paparan air dingin menyebabkan detak jantung melambat untuk menghemat oksigen dan energi.

Diketahui Aribeana juga memiliki riwayat penyakit jantung. Akibatnya, jantungnya berdetak semakin kencang, tekanan darah menurun, hingga pingsan.

Selain itu, kondisinya juga diperparah dengan olahraga intensitas tinggi yang dijalani, seperti angkat beban.

Menurut dokter yang menanganinya, Khashayar Hematpour, kondisi yang dialami Aribeana tidak biasa. Untuk mengobatinya, dokter melakukan operasi untuk melakukan ablasi.

"Satu hal yang menarik adalah bahwa reaksi Aribeana yang tidak biasa ini memungkinkan dokter tidak bisa mendiagnosis kondisinya sejak dini," jelasnya.

Selama operasi, dokter melakukan ablasi atau memutus hubungan antara saraf vagus dan jantung. Setelahnya, Aribeana bisa kembali menjalani aktivitasnya, meski dibarengi dengan pengobatan rutin untuk jantungnya.



Simak Video "Rencana Menkes Tambah Layanan Cath Lab di 514 Rumah Sakit Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat