gtrees.net

IDAI Buka Suara soal Viral ASI Perah Diproses Jadi Bubuk

Mencampur ASI perah
Ilustrasi ASI. (Foto: Getty Images/Natalya Trofimchuk)

Jakarta -

Metode pembekuan ASI dan mengolahnya menjadi bubuk atau freeze-dryed belakangan ini menjadi perbincangan masyarakat di media sosial. Proses pengolahan ASI peran tersebut yang dikenal sebagai teknik lyophilization dilakukan dengan tujuan memperpanjang umur simpan ASI dari semula 6 bulan di dalam freezer menjadi 3 tahun.

Menanggapi tren viral itu, Ketua Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Naomi Esthernita Fauzia Dewanto, Sp.A(K) mengatakan proses pengeringan ASI yang diolah menjadi bubuk belum diteliti lebih jauh mengenai manfaat dan dampaknya. Penggunaan suhu tinggi saat proses pengeringan untuk menghilangkan kandungan air, freeze-drying memiliki dampak pada rasa dan kualitas ASI.

"Tanpa bukti penelitian yang memadai, hingga saat ini belum jelas apakah freeze-dryed ASI memiliki rasio protein, lemak, karbohidrat yang tepat sebagai sumber nutrisi penting yang dibutuhkan bayi, berikut zat aktif untuk kekebalan tubuh dan tumbuh kembang bayi," kata dr Naomi dalam keterangan pers, Kamis (8/5/2024).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Proses freeze-drying ini meliputi pembekuan ASI pada suhu ekstrim -50 Celsius selama 3-5 jam, kemudian mengubah ASI beku menjadi susu bubuk menggunakan teknik sublimasi, yaitu transisi ekstraksi air selama 2 hari langsung dari bentuk padat (es) ke gas (uap air) tanpa fase cair.

Umumnya, 1 liter ASI akan menghasilkan sekitar 140 gram susu bubuk.

ADVERTISEMENT

Sementara itu pembekuan ASI yang lazim dilakukan pada praktik rumahan, telah diteliti dapat menimbulkan serangkaian perubahan fisik pada komponen utama ASI seperti pecahnya membran gumpalan lemak dan perubahan misel kasein, penurunan komposisi faktor bioaktif protein seiring lamanya penyimpanan beku.

Metode freeze-drying juga tidak melalui prosedur pasteurisasi yang bertujuan membunuh bakteri berbahaya. Dalam hal ini, pasteurisasi sengaja dihindari untuk menjaga probiotik vital yang ada dalam ASI. Dengan demikian maka risiko kontaminasi tetap menjadi ancaman, khususnya pada saat rekonsiliasi penambahan air pada bubuk freeze-dryed ASI sebelum dikonsumsi bayi.

"Menyusui dan memerah ASI untuk bayi mungkin terasa melelahkan, dan dapat dimengerti bila ibu ingin mencari cara termudah untuk memastikan bayi tetap memperoleh ASI. Menyusui langsung dari payudara ibu sangat direkomendasikan agar dapat terjalin kontak erat antara ibu dan bayi, menumbuhkan rasa aman dan meningkatkan ikatan orangtua-anak. Menyusui bukan sekadar memberikan ASI," tegas dr Naomi.



Simak Video "Dokter Anak Tak Rekomendasikan ASI Bubuk"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat