gtrees.net

Pebulutangkis Zhang Zhi Jie Meninggal, Dokter Jantung Ingatkan Pentingnya Skrining

Badminton racket. Professional sport equipment isolated on black studio background. Concept of sport, leadership, competition, healthy lifestyle in motion and action, training. Close up, copyspace.
Ilustrasi badminton (Foto: Getty Images/iStockphoto/master1305)

Jakarta -

Skrining jantung menjadi modal penting yang harus dilakukan seseorang sebelum benar-benar melakukan atau aktif dalam olahraga berat. Baik atlet maupun non-atlet, skrining jantung bertujuan untuk mendeteksi kondisi organ tersebut sehingga risiko henti jantung saat berolahraga bisa dicegah.

Terkait kasus henti jantung, baru-baru ini atlet badminton asal China, Zhang Zhi Jie meninggal dunia saat mengikuti ajang Badminton Asia Junior Championships 2024 di GOR Amongrogo, Yogyakarta. Belum ada pernyataan resmi terkait penyebab, namun dokter mengatakan kejadian nahas seperti ini bisa diakibatkan oleh gangguan irama jantung atau aritmia hingga terjadinya henti jantung.

Spesialis jantung dr Vito A Damay, SpJP(K) mengatakan baik atlet profesional maupun pegiat olahraga rekreasional, perlu mengetahui kondisi jantung sendiri. Hal ini untuk mengidentifikasi apakah ada masalah di jantung, sehingga bisa segera ditangani sebelum menyebabkan henti jantung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pentingnya screening jantung perlu digarisbawahi. Screening jantung sangat penting untuk mendeteksi kondisi jantung yang tersembunyi pada atlet profesional dan pegiat olahraga not-atlet," ujar dr Vito Damay ketika dihubungi , Senin (1/7/2024).

"Melalui tes seperti EKG (elektrokardiogram), echocardiogram, dan tes stres jantung. Masalah dapat diidentifikasi dan ditangani sebelum menyebabkan henti jantung, meningkatkan keselamatan dan kesehatan jangka panjang mereka," sambungnya.

dr Vito menambahkan untuk penyebab terjadinya henti jantung mendadak sendiri bisa bermacam-macam. Mulai dari kondisi bawaan seperti kardiomiopati hipertrofik, aritmia, atau penyakit arteri koroner.

"Henti jantung pada atlet sering disebabkan oleh kondisi jantung bawaan atau yang didapat, seperti kardiomiopati hipertrofik, aritmia, dan penyakit arteri koroner. Stres fisik yang ekstrem juga dapat memperburuk kondisi ini, memicu henti jantung mendadak," kata dr Vito.

Tak kalah pentingnya, lanjut dr Vito adalah pentingnya seseorang untuk mengetahui tentang tata cara melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau cardiopulmonary resuscitation (CPR). Hal ini akan sangat berguna ketika mereka berjumpa dengan kejadian henti jantung tiba-tiba di lapangan.

"Lebih penting lagi pentingnya pelatihan CPR pada atlet, dan penyelenggara pertandingan. Seharusnya wajib," kata dr Vito.

"Apapun sebabnya, itu jelas henti jantung. Harusnya siapapun di lapangan siap RJP. Sekali lagi ini tandanya atlet, orang awam sekalipun penting belajar RJP," sambungnya.

Kondisi henti jantung ini, lanjut dr Vito memang harus ditangani secara cepat dan tepat untuk menekan risiko kematian.

"Secepatnya (dilakukan RJP)," tutup dr Vito.

NEXT: Langkah-langkah RJP atau pijat jantung

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat