gtrees.net

Viral Tren Diet Pakai Obat Diabetes, Aman Nggak Sih?

ilustrasi diet
Foto ilustrasi: Shutterstock

Jakarta -

Diet menjadi salah satu cara yang dilakukan para pemilik berat badan berlebih untuk mengurangi berat badannya. Ada banyak cara diet yang dilakukan, mulai dari membatasi jumlah makanan yang masuk hingga aktivitas fisik yang cukup berat.

Namun, belakangan sedang ramai mengenai pola diet yang dilakukan hanya dengan suntik obat, termasuk menggunakan obat diabetes seperti Ozempic. Obat ini belakangan jadi primadona bagi pengidap diabetes setelah dipakai pesohor seperti Elon Musk sampai Julia Fox.

"Obat suntik Ozempic itu kan sebenarnya untuk diabetes, tapi memang berfungsi juga untuk mengurangi nafsu makan. Namun, tetap saja kita tidak boleh mengandalkan obat karena itu hanya membantu merubah gaya hidup untuk jaga pola makan," jelas dokter gizi dr Gaga Irawan Nugraha kepada saat ditemui di Jakarta Selatan, Jumat (1/2/2024).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari laman UCDavis Health, Ozempic bekerja dengan meniru hormon alami. Ketika kadar hormon meningkat, molekul-molekul tersebut menuju ke otak dan memberi tahu bahwa sudah kenyang. Dengan menggunakan obat suntik ini juga dapat mengurangi risiko terkena penyakit serius, seperti masalah jantung.

Namun, tetap saja tingkat penurunan berat badan yang dicapai dengan obat tidak seinstan saat dilakukan pembedahan. Ibaratnya, obat-obatan hanya bekerja sebagai terapi saja.

ADVERTISEMENT

Adapun untuk kasus obesitas dan sedang menjalankan diet, dr Gaga menyarankan 3 hal, yakni terapi antiobesitas dengan menggunakan obat-obatan, tindakan pembedahan, dan intervensi perilaku dan psikologis.

"Kalau dilakukan tindakan pembedahan itu contohnya memotong lambung. Nantinya lambung nggak bisa nampung banyak makanan. Bisa juga sedot lemak, tapi itu biasanya untuk mereka punya bagian yang bergelambir saat sudah berhasil diet. Nah, itu bisa sedot lemak," jelas dr Gaga.

Penggunaan obat diabetes untuk diet bukan tanpa risiko. penelitian baru dari University of British Columbia memberikan lebih banyak bukti yang menghubungkan penggunaan agonis GLP-1 dengan peningkatan risiko masalah pencernaan serius, termasuk kelumpuhan lambung, pankreatitis, dan obstruksi usus.

Dalam jurnal yang dipublikasikan di laman JAMA, peneliti menemukan efek GLP-1 pada sistem gastrointestinal setelah memperhatikan seseorang di ruang gawat darurat mengalami mual dan muntah signifikan yang tidak dapat dijelaskan.

"Sebagai catatan, dia baru-baru ini memulai Ozempic untuk menurunkan berat badan," jelas Mohit Sodhi, peneliti dan mahasiswa kedokteran tahun keempat di Universitas British Columbia dan penulis pertama studi baru ini kepada Medical News Today.



Simak Video "Mengulas Seputar Transplantasi Hati"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat