gtrees.net

Pro-Kontra Praktik Dokter Asing di RI Mencuat Lagi

Ilustrasi dokter atau rumah sakit
Pro-kontra dokter asing ke Indonesia (Foto: Getty Images/iStockphoto/Andrei Vasilev)

Jakarta -

Dokter asing yang masuk dan bekerja di suatu negara sebenarnya sudah terjadi di sejumlah negara. Namun masuknya dokter asing di Indonesia kini masih menjadi perdebatan bagi sejumlah pihak hingga memicu pro-kontra.

Tak sedikit yang menyatakan masuknya dokter asing ini akan menjadi daya saing bagi dokter lokal. Bahkan ada pula yang mempertanyakan soal kejelasan aturannya. Lantas, bagaimana penjelasannya? Simak fakta-faktanya berikut ini.

Sudah Diatur di Undang-Undang Kesehatan Baru

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terkait polemik dokter asing masuk ke Indonesia, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyebut Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023 sudah mengatur perihal tersebut. Mekanisme yang mengatur soal dokter asing juga sudah dijabarkan melalui aturan yang berlaku.

"Sebenarnya dokter asing itu sudah diputus di undang-undang. Jadi kalau ada orang yang bilang bahwa tidak setuju dokter asing itu sama aja undang-undang sudah bilang kita merdeka, kita tidak setuju Indonesia merdeka," katanya dalam Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR RI, Senin (8/7/2024).

Menurutnya, yang menolak dokter asing terlalu emosional. Sebab dokter asing yang boleh bertugas di Indonesia hanya dengan keahlian tertentu atau spesialis.

"Masih ada yang emosi, iya, dan aturannya juga tadi sudah jelas bahwa dokter asing itu yang dokter spesialis yang boleh praktik. Ya, dokter umum boleh datang, tapi misalnya kalau ada bencana kayak tsunami Aceh mereka datang, itu mereka boleh," ucapnya lagi.

Kekurangan Dokter Spesialis di RI Picu Lonjakan Kematian

Adapun masuknya dokter asing ke Indonesia tidak lantas membuat dokter lokal bersaing dengan asing, melainkan membantu penanganan sejumlah penyakit. Menurut Menkes, masuknya dokter asing ke Indonesia seharusnya tak lagi menjadi perdebatan.

Sebab, ketika ia keliling rumah sakit di daerah terpencil bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi), sering menemukan keluhan kekurangan dokter spesialis penyakit tertentu.

"Saya bersama Pak Jokowi itu datang tiap minggu jalan. Saya nggak pernah nemu lengkap ada dokter intervensinya. Karena kita datang ke daerah kota kota kecil, nggak pernah ketemu, tuh. Pasti dokter jantungnya nggak ada, dokter sarafnya nggak ada," tuturnya.

"Kalau ada dokter jantung juga nggak ada dokter intervensinya, perawatnya juga nggak ada," sambung Menkes.

Kekurangan dokter spesialis inilah yang memicu lonjakan kasus kematian. Karenanya, kata Menkes, hal ini perlu dicegah.

"Kalau ditanya Pak Presiden juga selalu tanya kalau masuk rumah sakit RSUD itu paling banyak meninggal apa? Jantung sama stroke? Adanya spesialis apa? Spesialis anak sama anastesi. Nggak ada hubungannya sama jantung sama stroke," kata dia.

"Jadi memang kita sudah kekurangan dokter, dan itu menghasilkan banyak masyarakat kita yang tidak terlayani," lanjutnya.

baca juga



IDI Tak Tolak Wacana Kemenkes Datangkan Dokter Asing, tapi...

IDI Tak Tolak Wacana Kemenkes Datangkan Dokter Asing, tapi...


(suc/up)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat