gtrees.net

5 Negara yang Kekurangan Populasi Pria, Inikah Pemicunya?

ilustrasi pria
Ilustrasi. (Foto: iStock)

Daftar Isi
  • 1. Armenia: 55,4 Persen Wanita
  • 2. Ukraina: 54,40 Persen Wanita
  • 3. Belarusia: 53,99 Persen Wanita
  • 4. Latvia: 53,57 Persen Wanita
  • 5. Rusia: 53,55 Persen Wanita
Jakarta -

Jumlah populasi di beberapa negara didominasi lebih banyak wanita ketimbang pria. Bahkan, persentasenya mencapai lebih dari 50 persen.

Kesenjangan antar jenis kelamin ini menjadi tantangan bagi pemerintah untuk mempertahankan angka kelahiran ideal, seiring dengan menuanya populasi secara umum. Berbagai faktor menjadi pemicu di balik kesenjangan tersebut, termasuk terkait perang, budaya, politik, dan genetika.

Data World Atlas merinci sedikitnya lima negara yang mengalami kesenjangan jumlah populasi pria dan wanita.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Armenia: 55,4 Persen Wanita

Bangsa kuno Armenia telah melalui banyak hal pada abad ke-20. Pemerintahan Soviet dan peperangan dengan negara-negara tetangganya tidak membawa manfaat apa pun bagi negara tersebut. Namun, kekurangan laki-laki di Armenia sebagian besar disebabkan oleh dampak Genosida Armenia yang terjadi selama dan setelah Perang Dunia Pertama. Saat masih di bawah pemerintahan Turki-Utsmaniyah, 1,5 juta orang Armenia dibunuh dalam eksekusi massal atau melakukan mars kematian melintasi gurun Suriah. Pembunuhan tersebut diorganisir dengan sangat baik dan sistematis sehingga peristiwa inilah yang menjadi alasan terciptanya kata 'genosida'. Berbagai catatan menunjukkan bahwa laki-laki merupakan mayoritas korban.

Gejolak ekonomi baru-baru ini juga menyebabkan laki-laki Amerika keluar untuk mencari pekerjaan. Ada komunitas Armenia yang cukup besar di seluruh dunia saat ini. Rusia, Prancis, dan Amerika Serikat semuanya memiliki populasi orang Armenia yang besar.

2. Ukraina: 54,40 Persen Wanita

Dengan kondisi Ukraina saat ini, ketika perang terus berkecamuk dan korban jiwa terus meningkat, kesenjangan antara laki-laki dan perempuan kemungkinan besar akan semakin besar. Terlepas dari keadaan yang suram di Ukraina modern, rendahnya jumlah laki-laki telah lama menjadi masalah sebelum dimulainya perang antara Rusia saat ini.

Banyak sejarawan sepakat Perang Dunia Kedua menghancurkan populasi laki-laki Ukraina sehingga masih belum pulih ke tingkat sebelum tahun 1941. Jika Perang Rusia dan Ukraina terus berlanjut, kecil kemungkinan tren ini akan berbalik dalam waktu dekat.

3. Belarusia: 53,99 Persen Wanita

Masih menyimpan luka masa lalu, Belarusia adalah salah satu kisah paling kelam di Eropa Timur. Terletak di perbatasan negara yang dulunya merupakan wilayah Nazi Jerman, wilayah tersebut menghadapi kehancuran total selama Perang Dunia Kedua. Banyak yang tewas, bahkan lebih dari seperempat penduduk.

Belarusia adalah salah satu negara termiskin di Eropa dan merupakan negara diktator terakhir di benua ini. Standar hidup rendah dan prospek ekonomi sedikit. Hal ini mendorong banyak pemuda melarikan diri ke wilayah lain di Eropa.

4. Latvia: 53,57 Persen Wanita

Terletak di sepanjang pantai Laut Baltik, negara kecil Latvia di Eropa memiliki rasio perempuan dan laki-laki tertinggi kedua di dunia. Kesenjangan ini disebabkan banyaknya bahaya yang ditimbulkan diri sendiri dan lebih banyak ditemukan di kalangan laki-laki di belahan dunia ini. Minum alkohol dan merokok lebih banyak terjadi pada pria Latvia.

Kegiatan ini berkontribusi terhadap berbagai komplikasi kesehatan seperti penyakit jantung dan berbagai jenis kanker. Angka harapan hidup laki-laki di Latvia adalah sekitar 68 tahun, sedangkan perempuan 10 tahun lebih tua, yaitu 78 tahun. Angka bunuh diri juga jauh lebih tinggi di kalangan laki-laki. Ini adalah tren yang mengkhawatirkan yang terjadi di sebagian besar negara di dunia.

5. Rusia: 53,55 Persen Wanita

Sama seperti negara tetangganya, Ukraina, Rusia juga mengaitkan kesenjangan gender ini dengan dampak buruk Perang Dunia Kedua. Uni Soviet melaporkan korban paling banyak dibandingkan negara mana pun selama konflik dan kehilangan 27 juta orang. Namun, sejarah suram Rusia bukan satu-satunya alasan tingginya jumlah perempuan. Sama seperti Estonia dan Lituania, pria Rusia lebih rentan menjadi korban alkoholisme. Hal ini semakin memburuk setelah runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990an. Selama 30 tahun terakhir ini, sebagian besar penduduk laki-laki di Rusia telah merasakan dampak jangka panjang dari konsumsi alkohol berlebihan dan penggunaan rokok setiap hari.



Populasi China Anjlok, Apa Alasan Warga Ogah Punya Anak?

Populasi China Anjlok, Apa Alasan Warga Ogah Punya Anak?


(naf/naf)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat