gtrees.net

Ngeri! Bakteri Pemakan Daging Mematikan Menyebar Cepat di Jepang

TOKYO, JAPAN - DECEMBER 30: People pass along Ameyoko shopping street as they do end of year shopping on December 30, 2021 in Tokyo, Japan. Tokyo Metropolitan Government reported 64 new Covid-19 cases today. However, the governors of Tokyo and Osaka have urged residents to limit New Years Eve gatherings as more cases of the Omicron variant are discovered in the country. (Photo by Carl Court/Getty Images)
Ilustrasi warga Jepang (Foto: Getty Images/Carl Court)

Jakarta -

Bakteri pemakan daging langka yang dapat membunuh orang dalam waktu 48 jam tengah menyebar di Jepang. Bakteri tersebut merebak pesat saat Jepang mulai melonggarkan peraturan pembatasan COVID-19.

Laporan penyakit akibat infeksi bakteri yang istilah medisnya adalah Streptococcal Toxic Shock Syndrome (STSS) ini telah tercatat sebanyak 977 kasus di Jepang, lebih tinggi dari rekor 941 kasus yang tercatat sepanjang tahun lalu.

Jumlah kasus baru ini merupakan hasil pencatatan National Institute of Infectious Diseases Japan per 2 Juni 2024. Instansi ini telah melacak kejadian penyakit infeksi bakteri tersebut sejak 1999.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

STSS adalah penyakit parah yang disebabkan oleh infeksi bakteri Streptococcus grup A (GAS). Bakteri ini biasanya menyebabkan pembengkakan dan sakit tenggorokan pada anak-anak.

Namun pada sejumlah kasus beberapa jenis bakteri dapat menyebabkan timbulnya syok yang cepat dan kegagalan multi-organ, yang dapat mengancam jiwa jika tidak segera ditangani. Orang yang berusia di atas 50 tahun lebih rentan terhadap penyakit ini.

"Sebagian besar kematian terjadi dalam waktu 48 jam," kata Ken Kikuchi, seorang profesor penyakit menular di Universitas Kedokteran Wanita Tokyo, dikutip dari Bloomberg, Senin (17/6/2024).

"Segera setelah seorang pasien merasakan pembengkakan di kaki di pagi hari, pembengkakan tersebut akan meluas hingga ke lutut pada siang hari, dan mereka dapat meninggal dalam waktu 48 jam," lanjutnya.

Pada akhir 2022, setidaknya lima negara Eropa juga telah melaporkan kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang peningkatan kasus penyakit invasive group A streptococcus (iGAS), termasuk STSS. WHO mengatakan peningkatan kasus itu terjadi setelah berakhirnya pembatasan COVID-19.

"Dengan tingkat infeksi saat ini, jumlah kasus di Jepang bisa mencapai 2.500 pada tahun ini, dengan tingkat kematian yang "mengerikan" sebesar 30 persen," kata Kikuchi.

Kikuchi mendesak masyarakat Jepang untuk menjaga kebersihan tangan dan mengobati luka terbuka secepat mungkin. Dia mengatakan pasien yang mengidap infeksi bakteri tersebut bisa membawa GAS di ususnya, yang dapat mencemari tangan mereka melalui tinja.



77 Orang Tewas Akibat Wabah Bakteri Pemakan Daging di Jepang

77 Orang Tewas Akibat Wabah Bakteri Pemakan Daging di Jepang


(suc/suc)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat