gtrees.net

Pasutri di Thailand Banyak yang Ogah Punya Anak, Lebih Pilih Urus Kucing

Thailand memiliki tradisi unik dalam memperingati hari Valentine. Setiap tahun, ratusan bahkan ribuan pasangan menikah secara massal pada tanggal 14 Februari.
Pasangan suami istri di Thailand. (Foto: Getty Images/Lauren DeCicca)

Jakarta -

Merosotnya angka kesuburan juga terjadi di Thailand. Total fertility rate (TFR) berada di 1,08 tahun lalu, terendah kedua di Asia Tenggara setelah Singapura di angka 0,97.

Bukti nyata terlihat dari banyak warga yang enggan memiliki anak setelah menikah. Misalnya, Ira Kitpinyochai dan Boontarika Namsena, pasangan suami istri tersebut sudah menjalani empat tahun pernikahan dan hingga kini tidak terpikir untuk memiliki anak. Mereka mengaku lebih bahagia mengurus 11 kucing.

Rupanya, perjanjian untuk tidak menjadi orang tua sudah disepakati sebelum menikah. Menurut pandangan mereka, anak-anak menjadi tanggung jawab besar karena banyaknya biaya, waktu, dan dana pendidikan yang dikeluarkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sementara sebagian besar waktu kami di kantor adalah 10 hingga 12 jam (sehari)," kata manajer pengadaan Boontarika.

"Bagaimana kami punya waktu untuk merawat anak-anak kami?"

Di sudut lain dunia usaha Thailand, Anchalee Chaichanavijit, Direktur Eksekutif Asosiasi Pemasaran Thailand, memikirkan hal yang tidak jauh berbeda.

Karena tuntutan kehidupan profesionalnya sangat berat, membesarkan anak tampaknya merupakan tugas dengan tuntutan tambahan energi, uang, sumber daya, dan waktu yang tidak dimiliki Anchalee.

"Saya tidak ingin mempunyai anak karena kehidupan saya sendiri sudah cukup sulit," katanya kepada program Insight, mencerminkan sentimen yang semakin umum di antara banyak warga Thailand.

Menurut survei National Institute of Development Administration pada September lalu, 44 persen responden menyatakan kurangnya keinginan untuk memiliki anak.

Alasan utama yang dikemukakan adalah biaya pengasuhan anak, kekhawatiran mengenai dampak kondisi sosial terhadap anak, dan tidak ingin terbebani dengan pengasuhan anak.

Wakil Perdana Menteri Somsak Thepsutin memperingatkan, jika negaranya tersebut terus menghadapi hal ini, populasinya bisa berkurang setengahnya, dari saat ini 66 juta menjadi 33 juta, dalam waktu 60 tahun.

Meskipun penurunan tingkat kesuburan merupakan fenomena global, Thailand akan menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.



Thailand Tetapkan Ganja Jadi Obat Terlarang Mulai 1 Januari 2025

Thailand Tetapkan Ganja Jadi Obat Terlarang Mulai 1 Januari 2025


(naf/naf)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat