gtrees.net

Misteri Kematian Pertama pada Manusia Akibat H5N2, Tertular dari Makanan?

A government worker disinfects a poultry farm against the spread of bird flu in Darul Imarah in Indonesias Aceh province on March 2, 2023. (Photo by CHAIDEER MAHYUDDIN / AFP) (Photo by CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP via Getty Images)
Disinfeksi flu burung. (Foto: AFP via Getty Images/CHAIDEER MAHYUDDIN)

Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belakangan mengonfirmasi satu kasus kematian pertama di manusia akibat strain flu burung H5N2. Meski begitu, baru-baru ini terungkap pemicu kematiannya dikaitkan tidak hanya soal infeksi, melainkan faktor riwayat komorbid lain.

"Pria yang terjangkit H5N2, meninggal karena berbagai faktor," kata WHO pada Jumat, seraya menambahkan bahwa penyelidikan masih terus dilakukan.

WHO pada Rabu mengumumkan kasus infeksi flu burung H5N2 pada manusia pertama yang dikonfirmasi laboratorium telah dilaporkan dari Meksiko.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kementerian Kesehatan Meksiko mengatakan pria berusia 59 tahun itu memiliki riwayat penyakit ginjal kronis, diabetes tipe 2 (dan) hipertensi arteri sistemik yang sudah berlangsung lama.

Dia telah terbaring di tempat tidur selama tiga minggu sebelum timbulnya gejala akut, demam, sesak napas, diare, mual, dan rasa tidak enak badan pada 17 April.

ADVERTISEMENT

Pria itu dibawa ke rumah sakit di Mexico City pada 24 April dan meninggal pada hari itu juga.

"Kematian tersebut merupakan kematian multifaktorial, bukan kematian akibat H5N2," kata juru bicara WHO Christian Lindmeier kepada wartawan di Jenewa, Jumat.

"Pasien datang ke rumah sakit setelah berminggu-minggu memiliki latar belakang multifaktorial dari berbagai penyakit lainnya," ujarnya.

Tubuhnya kemudian secara rutin diuji untuk flu dan virus lainnya, kemudian terdeteksi H5N2.

Tujuh belas kontak erat kasus tersebut di rumah sakit telah diidentifikasi, dan semuanya dinyatakan negatif. Di tempat tinggal pria tersebut, teridentifikasi 12 kontak erat dalam beberapa minggu sebelumnya. Semua juga dinyatakan negatif.

"Penyelidikan sedang berlangsung. Serologi sedang berlangsung. Itu berarti tes darah terhadap kontak untuk melihat apakah ada kemungkinan infeksi sebelumnya," kata Lindmeier.

"Infeksi H5N2 sedang diselidiki untuk melihat apakah dia tertular oleh seseorang yang berkunjung atau melalui kontak dengan hewan apa pun sebelumnya."

WHO mengatakan pada hari Rabu bahwa sumber paparan virus tersebut tidak diketahui, meskipun virus H5N2 telah dilaporkan terjadi pada unggas di Meksiko.

Berdasarkan informasi yang tersedia, Badan Kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa menilai risiko yang ditimbulkan oleh virus ini terhadap masyarakat umum adalah rendah.

Risiko Tertular dari Makanan Rendah

Markus Lipp, pejabat senior keamanan pangan di Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, mengatakan risiko tertular flu burung meskipun mengonsumsi daging unggas sangat rendah.

"Selama seratus tahun flu burung, belum ada bukti adanya penularan melalui makanan," katanya pada konferensi pers melalui tautan video dari kantor pusat FAO di Roma.

"Petugas yang menangani hewan, tentu saja, yang melakukan kontak sangat dekat dengan hewan mungkin bisa tertular, tapi ini adalah risiko pekerjaan. Ini bukan penularan melalui makanan," katanya.

"Manusia tidak memiliki reseptor flu burung di saluran pencernaannya, berbeda dengan spesies hewan tertentu, sejauh yang kami tahu. Jadi kemungkinannya sangat kecil, hanya dari sudut pandang itu," lanjutnya lagi.

Dari semua risiko keamanan pangan saat mengonsumsi daging unggas, mungkin risiko paling rendah terkait dengan flu burung, kata Lipp.

Penyebaran H5N1

Varian lain dari flu burung, H5N1, telah menyebar selama berminggu-minggu di kalangan ternak sapi perah di Amerika Serikat, dan sejumlah kecil kasus dilaporkan terjadi pada manusia.

Namun, tidak satupun dari penyakit tersebut yang menular dari manusia ke manusia, dan penyakit ini malah menular dari ternak ke manusia, kata pihak berwenang.

H5N1 pertama kali muncul pada 1996 tetapi sejak 2020, jumlah wabah pada burung telah meningkat secara eksponensial, seiring dengan peningkatan jumlah mamalia yang terinfeksi.

Strain ini telah menyebabkan kematian puluhan juta unggas, burung liar, mamalia darat dan laut juga terinfeksi. Kasus pada manusia yang tercatat di Eropa dan Amerika Serikat sejak virus ini melonjak sebagian besar bersifat ringan.



Simak Video "Penjualan Susu Mentah di AS Dibatasi gegara Sapi Terjangkit H5N1"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/suc)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat