gtrees.net

Tentara Israel Dilaporkan Stres, Disebut Plih Bunuh Diri demi Hindari Gaza

A picture taken during a media tour organized by the Israeli army on February 8, 2024, shows Israeli soldiers inside an evacuated compound of UNRWA in Gaza City. (AFP)
Tentara Israel. (Foto: dok. AFP)

Jakarta -

Israel dilaporkan kekurangan tentara saat memasuki perang bulan kesembilan sejak 7 Oktober lalu. Pihaknya kemudian mencari sukarelawan yang bisa membantu kelanjutan perang.

Banyak tentara yang disebut mengalami stres bahkan hingga bunuh diri saat diminta kembali dinas militer di Jalur Gaza, menurut laporan Al Jazeera. Sebelumnya, surat kabar Israel Haaretz juga mengonfirmasi dalam beberapa bulan terakhir sepuluh perwira dan tentara memilih bunuh diri, dengan beberapa di antaranya terjadi selama pertempuran di permukiman sekitar Gaza.

Pada pertengahan Maret, tentara Israel mengakui menghadapi krisis kesehatan mental paling signifikan sejak 1973, yang berasal dari pertempuran dengan kelompok Perlawanan Palestina di Jalur Gaza sejak operasi Banjir Al-Aqsa pada 7 Oktober.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dampak Psikologis yang Tak Biasa

Bulan lalu, surat kabar Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa jajak pendapat internal militer menunjukkan hanya 42 persen perwira tetap yang ingin melanjutkan dinas militer setelah perang di Gaza, turun dari 49 persen pada Agustus tahun sebelumnya.

ADVERTISEMENT

Tentara Israel telah melaporkan 3.763 terluka sejak 7 Oktober, dengan 1.902 cedera terjadi sejak dimulainya pertempuran darat pada 27 Oktober.

Korban tewas resmi tentara Israel mencapai 646 tentara dan perwira sejak perang dimulai, termasuk 294 orang tewas dalam pertempuran darat di Gaza.

Namun, rumah sakit dan media Israel menyatakan jumlah korban sebenarnya lebih tinggi dari yang dilaporkan.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, 37,084 warga Palestina telah terbunuh, dan 84,494 terluka dalam genosida Israel yang sedang berlangsung di Gaza mulai 7 Oktober.

Selain itu, setidaknya 7.000 orang belum ditemukan, diperkirakan tewas di bawah reruntuhan rumah mereka di seluruh Jalur Gaza. Organisasi-organisasi Palestina dan internasional mengatakan mayoritas dari mereka yang terbunuh dan terluka adalah perempuan dan anak-anak.

Agresi militer Israel telah mengakibatkan kelaparan akut, sebagian besar di bagian utara Gaza, yang mengakibatkan kematian warga Palestina, kebanyakan anak-anak.

Israel juga mengakibatkan hampir dua juta orang terpaksa mengungsi dari seluruh Jalur Gaza, dengan sebagian besar pengungsi terpaksa mengungsi ke kota Rafah di bagian selatan yang padat penduduknya, dekat perbatasan dengan Mesir, yang kini juga menjadi target operasi perang Israel, bak tidak ada lagi zona aman di wilayah tersebut.



Simak Video "Reaksi WHO soal Insiden Tentara Israel Nyamar Jadi Nakes di RS Ibnu Sina"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat