gtrees.net

Tips Jalani Ibadah Haji bagi Jemaah Haji dengan Riwayat Penyakit Jantung

Salah satu jemaah sedang berobat ke KHHI.
Ilustrasi. Foto: Dok Media Center Haji 2024

Jakarta -

Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilakukan umat muslim yang mampu, baik secara finansial dan fisik. Adapun lama ibadah haji berlangsung kurang lebih 30 hari, mulai dari keberangkatan hingga kepulangan. Oleh sebab itu, diperlukan perhatian khusus dan persiapan matang terhadap kesehatan para jemaah haji, terutama mereka memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Mengutip situs Sehat Negeriku Kementerian Kesehatan, salah satu penyakit yang menjadi penyebab kematian terbanyak dari jemaah haji adalah penyakit jantung. Hingga hari ke-25 penyelenggaraan ibadah haji di tahun 2023, terdapat 42 dari 78 jemaah haji meninggal di Arab Saudi disebabkan oleh penyakit jantung. Lantas apa yang menjadi penyebab terjadinya penyakit jantung?

Dokter Spesialis Jantung Konsultan Kardiologi Intervensi dan Kardiovaskular Intensivist dari Mayapada Hospital Bogor dr. Fahmi Idrus Shahab, Sp.JP (K) FIHA menjelaskan penyakit jantung dapat disebabkan karena dua faktor, yakni usia dan riwayat kesehatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Faktor usia dan riwayat kesehatan adalah beberapa faktor risiko yang dapat memperburuk kondisi jantung dan meningkatkan risiko para jemaah haji terkena penyakit jantung. Misalnya, Laki-laki dengan usia di atas 45 tahun, perempuan dengan usia di atas 55 tahun, juga riwayat penyakit yang pernah dialami seperti penyakit penyerta (komorbid) hipertensi, diabetes, dan obesitas," ujar dr. Fahmi dalam keterangannya, Selasa (28/5/2024).

"Oleh karena itu, para jemaah haji yang mengidap penyakit jantung seyogyanya waspada terhadap tanda-tanda serangan jantung dan juga merencanakan persiapan fisik, serta melakukan pengawasan yang lebih ketat untuk memastikan kesehatan dan keselamatannya selama menjalani ibadah haji," imbuhnya.

ADVERTISEMENT

Lebih lanjut, dr. Fahmi menjelaskan para jemaah haji ada baiknya mengetahui tanda-tanda serangan jantung.

"Jemaah haji perlu waspada ketika merasakan beberapa hal, seperti tiba-tiba nyeri hebat di dada sebelah kiri dan menjalar ke leher, rahang, dan bahu. Kemudian merasa sesak napas, kelelahan ekstrem, keringat dingin, dan nyeri ulu hati. Jika jemaah haji merasakan tanda-tanda tersebut, segera meminta bantuan tenaga kesehatan terdekat," ungkapnya.

dr. Fahmi menambahkan, para jemaah haji dengan gangguan jantung, seperti Penyakit Jantung Koroner (PJK) dan penyakit gagal jantung yang sedang dalam terapi juga harus rutin mengonsumsi obat yang telah diberikan dokter jantung.

Jika kehabisan obat rutin selama menjalani ibadah haji, lapor kepada Tenaga Kesehatan Haji (TKH) sesuai dengan kloter atau kelompok terbang. Sebab dalam pelaksanaan tugasnya, TKH dibekali obat-obatan dan perbekalan kesehatan untuk mendukung pelayanan kesehatan jemaah haji. Adapun penyaluran obat-obatan untuk TKH dilakukan melalui depo berada di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI).

Selain itu, jemaah haji juga perlu melakukan pemeriksaan jantung, seperti EKG sebelum berangkat. Dengan begitu, jemaah haji dengan faktor risiko penyakit jantung dapat terdeteksi dan terhindar dari serangan jantung.

Agar ibadah haji tetap berjalan lancar, Dokter Spesialis Jantung Konsultan Kardiologi Intervensi yang berpraktik di Mayapada Hospital Bandung, dr. Nizamuddin Ubaidillah, SpJP (K), FIHA memberikan tips untuk menjaga kondisi kesehatan jantung bagi para jemaah haji.

"Seluruh jemaah harus mengatur ritme atau pola aktivitas harian selama ibadah haji. Hal ini bertujuan agar jamaah haji tidak kelelahan dan bisa mempersiapkan diri lebih baik menjelang puncak ibadah haji atau prosesi Arafah, Muzdalifah dan Mina. Bagi jemaah yang memiliki penyakit jantung, penting untuk menghindari aktivitas fisik yang berat, beraktivitaslah sesuai dengan kemampuan karena kelelahan yang terjadi akibat aktivitas yang berat dapat memicu timbulnya serangan jantung," katanya.

"Untuk menghindari kelelahan, penggunaan kursi roda untuk jemaah yang memiliki gangguan jantung juga disarankan sehingga dapat menjalankan ibadah haji dengan lancar namun tetap sesuai kemampuan fisik dan tidak memaksakan diri," sambungnya.

Menjaga kondisi kesehatan jantung menjadi hal penting yang perlu dilakukan bagi siapapun yang ingin menjalani ibadah haji, terutama mereka yang memiliki gangguan pada jantung. Dengan demikian, jemaah haji mampu mengikuti seluruh rangkaian proses ibadah dengan lancar. Bahkan, persiapan ini juga dapat dilakukan dari jauh-jauh hari bahkan dari satu tahun sebelumnya.

Bagi calon jemaah yang ingin berkonsultasi dengan dokter, dr. Fahmi Idrus dan dr. Nizamuddin Ubaidillah siap memberikan tips persiapan hingga penanganan secara holistik dalam mempersiapkan diri sebelum berangkat ibadah haji.

Setelah tuntas melaksanakan ibadah haji dan kembali ke Tanah Air, para jemaah haji juga dapat mengecek kondisi jantung. Jika merasakan kelelahan atau tidak nyaman pada jantung, jemaah dapat menghubungi layanan kegawatdaruratan jantung di Mayapada Hospital yang siaga 24 jam penuh.

Adapun dr. Fahmi dan dr. Nizamuddin merupakan dokter spesialis jantung yang berpraktik di Cardiovascular Center Mayapada Hospital. Cardiovascular Center Mayapada Hospital merupakan salah satu layanan unggulan yang dimiliki rumah sakit berstandar internasional Mayapada Hospital untuk menangani berbagai kasus jantung secara komprehensif. Cardiovascular Center juga terdapat di seluruh unit Mayapada Hospital yang berada di wilayah Jakarta, Tangerang, Bogor, Surabaya, dan Bandung.

(prf/ega)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat