gtrees.net

WHO Ungkap Pandemi COVID Picu Penurunan Angka Harapan Hidup Global

Geneva, Switzerland - December 03, 2019: World Health Organization (WHO / OMS) Logo at WHO Headquarters
Foto: Getty Images/diegograndi

Jakarta -

Pandemi COVID-19 telah menyebabkan penurunan harapan hidup global secara drastis. Pandemi telah menghapus hampir satu dekade kemajuan dalam hanya dua tahun. Hal ini diketahui dari laporan "World Health Statistics 2024" yang dirilis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada Jumat (24/5/2024).

"Antara tahun 2019 dan 2021, angka harapan hidup global turun 1,8 tahun menjadi 71,4 tahun (kembali ke angka tahun 2012). Demikian pula, angka harapan hidup sehat global turun 1,5 tahun menjadi 61,9 tahun pada tahun 2021 (kembali ke angka tahun 2012)," tulis WHO dalam keterangannya.

Laporan tahun 2024 juga menyoroti bagaimana dampaknya dirasakan secara tidak merata di seluruh dunia. Wilayah WHO di Amerika dan Asia Tenggara adalah wilayah yang paling terkena dampaknya. Dua wilayah ini mengalami penurunan angka harapan hidup sekitar 3 tahun dan angka harapan hidup sehat sebesar 2,5 tahun antara tahun 2019 dan 2021.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebaliknya, Wilayah Pasifik Barat hanya mengalami penurunan dampak minimal selama dua tahun pertama pandemi dengan penurunan angka harapan hidup kurang dari 0,1 tahun. Dan angka harapan hidup sehat sebesar 0,2 tahun.

"Terdapat kemajuan besar dalam kesehatan global, dengan miliaran orang yang menikmati kesehatan yang lebih baik, akses yang lebih baik ke layanan, dan perlindungan yang lebih baik dari keadaan darurat kesehatan. Namun, kita harus ingat betapa rapuhnya kemajuan tersebut," kata Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus saat mengomentari laporan tersebut.

ADVERTISEMENT

"Tetapi kita harus ingat betapa rapuhnya kemajuan yang dicapai. Hanya dalam dua tahun, pandemi COVID-19 menghapus peningkatan angka harapan hidup selama satu dekade," tambahnya.

Sebagaimana diketahui, COVID-19 dengan cepat muncul sebagai penyebab utama kematian, menduduki peringkat ketiga penyebab kematian tertinggi secara global pada tahun 2020 dan peringkat kedua pada tahun 2021. Hampir 13 juta nyawa hilang selama periode ini.

Perkiraan terbaru mengungkapkan bahwa kecuali di wilayah Afrika dan Pasifik Barat, COVID-19 termasuk di antara lima penyebab kematian teratas, terutama menjadi penyebab kematian utama di wilayah Amerika pada kedua tahun tersebut.

Laporan WHO juga menyoroti bahwa penyakit tidak menular (PTM) seperti penyakit jantung iskemik dan stroke, kanker, penyakit paru obstruktif kronik, penyakit Alzheimer dan demensia lainnya, serta diabetes merupakan pembunuh terbesar sebelum pandemi, dan menyebabkan 74 persen dari seluruh kematian di dunia. 2019. Bahkan selama pandemi, PTM masih menyumbang 78 persen kematian non-COVID.

Selain dampak pandemi dan PTM, dunia juga menghadapi masalah besar dan kompleks berupa beban ganda malnutrisi. Kekurangan gizi terjadi bersamaan dengan kelebihan berat badan dan obesitas.

Pada 2022, lebih dari satu miliar orang berusia lima tahun ke atas hidup dengan obesitas, sementara lebih dari setengah miliar orang mengalami kekurangan berat badan.

Malnutrisi pada anak-anak juga sangat mencolok, dengan 148 juta anak di bawah lima tahun terkena stunting (terlalu pendek untuk usianya), 45 juta mengalami wasting (terlalu kurus untuk tinggi badan), dan 37 juta kelebihan berat badan.



Kasus Covid-19 di Singapura Melejit, Diprediksi Melonjak pada Juni

Kasus Covid-19 di Singapura Melejit, Diprediksi Melonjak pada Juni


(suc/suc)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat