gtrees.net

Mengintip Gua Paling Berbahaya di Bumi, Disebut Jadi Sarang Penyakit Mematikan

Light bursting through an opening in a cave in Vietnam
Ilustrasi gua. (Foto: iStock)

Jakarta -

Gua Kitum yang berlokasi di Taman Nasional Gunung Elgon di Kenya, disebut-sebut menjadi gua yang paling berbahaya di bumi. Di gua tersebut, terdapat sejumlah patogen yang berbahaya dan mematikan bagi manusia.

Ketika gua Kitum pertama kali ditemukan, para peneliti tidak tahu apa yang membuat goresan dan goresan di sepanjang dindingnya. Mereka berteori bahwa para pekerja Mesir kuno telah menggali situs tersebut untuk mencari emas atau berlian.

Pada tahun 1980-an, gua tersebut bikin geger setelah dua orang dilaporkan meninggal setelah mengunjunginya. Kedua korban disebut terpapar virus Marburg yang sangat berbahaya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Laporan mengungkapkan bahwa kedua korban meninggal segera setelah mengunjungi gua Kitum, yang menimbulkan keyakinan bahwa virus Marburg menyebabkan kematian mereka karena gejala yang mereka alami terkait dengan virus tersebut.

Para ilmuwan menyadari bahwa mineral asin yang berharga di gua tersebut, yang menjadikan tempat ini menarik dikunjungi gajah, juga kerbau, antelop, macan tutul, dan hyena. Gua Kitum kemudian menjadi inkubator penyakit zoonosis, penyakit yang menyebar melalui perantara hewan.

United States Army Medical Research Institute of Infectious Diseases (USAMRIID) meluncurkan ekspedisi ke Gua Kitum setelah insiden tahun 1980-an, dengan mengenakan pakaian Racal, yakni pakaian khusus seperti astronaut. Namun mereka kesulitan untuk mengidentifikasi spesies yang bertanggung jawab atas penyebaran patogen mematikan tersebut ke manusia.

Namun, lebih dari satu dekade kemudian, RNA Marburg terdeteksi pada kelelawar buah Mesir (Rousettus aegyptiacus) yang tampak sehat yang ditarik dari gua tersebut pada bulan Juli 2007. Reservoir virus mematikan itu terdapat di jaringan hati, limpa, dan paru-paru kelelawar betina hamil.

"Orang-orang sebelumnya telah melihat sejumlah genom kelelawar dan tidak dapat menemukan reseptor sel NK tradisional," seperti yang dijelaskan oleh ahli mikrobiologi Universitas Boston Stephanie Pavlovich kepada publikasi internal sekolah tersebut, The Brink.

Tahun lalu, tim dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dikerahkan ke seluruh Afrika, bekerja sekuat tenaga untuk menghentikan wabah Marburg, yang kemudian ditemukan di gua-gua lain di seluruh benua.

Para dokter di AS juga diperingatkan untuk mewaspadai kasus-kasus impor, sehingga memicu kekhawatiran bahwa virus tersebut mungkin menyebar tanpa terdeteksi.



Virus Marburg di Afrika Merebak, Angka Kematian Relatif Tinggi

Virus Marburg di Afrika Merebak, Angka Kematian Relatif Tinggi


(kna/naf)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat