gtrees.net

Sedang Kurang Sehat? Tahan Dulu, Cipika-cipiki Gampang Tularkan Penyakit Ini

beautiful young asian woman putting on a mask on face
Hindari cipika-cipiki jika sedang kurang sehat (Foto: Getty Images/iStockphoto/imtmphoto)

Jakarta -

Tradisi cium pipi kanan cium pipi kiri atau lebih sering disebut cipika-cipiki, telah lama menjadi bagian tak terpisahkan saat silaturahmi di momen lebaran. Namun, dalam tradisi yang indah ini, perlu diingat akan pentingnya menjaga kesehatan anak, terutama di tengah musim pancaroba.

Kontak cipika-cipiki antara orang dewasa dan anak-anak sebaiknya diperhatikan dengan bijaksana. Kita harus mengingat bahwa orang dewasa yang sedang sakit memiliki risiko menularkan penyakitnya kepada anak-anak yang rentan terhadap infeksi. Terlebih lagi sekarang memasuki musim pancaroba yang menyebabkan penyebaran penyakit menjadi lebih mudah.

"Mungkin kumpul keluarga itu sulit dihindari ya pada saat hari raya. Nah, cuma mungkin kita bisa siasati misalnya dengan meminimalisir misalnya orang yang tidak terlalu dekat atau bahkan keluarga untuk tidak sembarangan mencium atau memegang-megang anak balita," jelas dr Dwinanda Aidina, SpA, Subsp.IPT, dalam diskusi dengan media, Jumat (5/4/2024).

Orang tua perlu memegang kendali dan bersikap tegas dalam menolak situasi ketika anak digendong sana-sini atau bahkan dicium oleh orang dewasa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi lingkungan juga sangat berperan dalam perkembangan penyakit si anak ya. Karena kadang ada virus di tubuh orang dewasa ini nggak bergejala. Yang kayak COVID kan bisa nggak bergejala, tapi sebenarnya ada di saluran napas kita. Begitu kita cium, kita gendong ya, bisa menular ke yang balita yang lebih rentan imunitasnya," terang dr Dwinanda.

Dalam masyarakat, kebiasaan-kebiasaan seperti anak digendong dan dicium sering kali terjadi. Orang tua perlu mengambil langkah untuk melindungi anak-anak dengan menegaskan batasan-batasan yang sesuai dan pentingnya kesejahteraan serta keselamatan anak-anak. Jika anak tertular penyakit, mungkin bisa lebih berat gejalanya dari orang dewasa.

"Gejala yang orang dewasa alami bisa berbeda sama balita. Bisa lebih berat gejalanya. Jadi orang tuanya yang harus keras. Memang ini rame kasusnya dan nggak sedikit," ucap dr Dwinanda.

"Kita nggak bisa mengendalikan orang lain. Tapi paling nggak dimulai dari kita sendiri atau lingkungan terdekat kita. Tolong kalo misalnya kita nggak enak badanlah, sakitlah, jangan datang ke pertemuan orang banyak. Atau kalau terpaksa sekali ya kita bergabung dengan pakai masker," tambahnya.



Ahli Sebut Lonjakan Infeksi Bakteri Strep A di Jepang Tak Akan Picu Pandemi

Ahli Sebut Lonjakan Infeksi Bakteri Strep A di Jepang Tak Akan Picu Pandemi


(up/up)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat