gtrees.net

Ada Studinya, 3 Minuman yang Sering Dikonsumsi Ini Bisa Naikkan Risiko Pikun

Ilustrasi sakit kepala atau pusing saat bangun tidur
Ilustrasi demensia (Foto: Getty Images/staticnak1983)

Jakarta -

Tidak hanya apa yang dimakan, apa yang diminum seseorang juga bisa mempengaruhi kesehatan otak, lho.

Ilmuwan di Jerman menemukan bahwa meminum minuman yang tinggi gula meningkatkan risiko demensia, dikutip dari The Sun. Adapun minuman ini termasuk minuman buah, minuman susu berperisa, dan minuman bersoda tinggi lemak.

Beberapa jenis minuman menyertakan klaim 'free sugar' atau bebas gula, misalnya pada minuman jus buah kemasan. Perlu diketahui, minuman kemasan seperti ini pun berisiko memicu gangguan kesehatan. Berkenaan dengan itu, ahli tidak menyertakan penjelasan lebih lanjut perihal alasan peningkatan asupan gula dapat meningkatkan risiko penyakit.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa hal ini mungkin disebabkan karena gula dapat menyebabkan peradangan, yang dianggap berperan dalam kondisi neurodegeneratif seperti penyakit Alzheimer, yakni bentuk paling umum dari kondisi ini.

Saat ini, penyakit demensia belum ada obatnya. Namun, tiga obat yang menjanjikan untuk memperlambat perkembangannya sedang dalam proses uji coba.

Sementara itu, para ahli mengatakan bahwa berfokus pada memperbaiki gaya hidup merupakan cara terbaik untuk melawan demensia.

Para ilmuwan dari University of Giessen menulis bahwa mengonsumsi minuman dengan gula bebas dan gula alami 'secara signifikan berhubungan dengan risiko demensia'.

Mereka menemukan bahwa mengonsumsi sedikit minuman susu, seperti milkshake vanila McDonald's setiap hari, dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia sebesar 39 persen selama 10 tahun. Sedangkan meminum sekaleng soda penuh lemak meningkatkan risiko demensia sebesar 21 persen.

Sementara itu, mengonsumsi makanan dengan gula bebas atau gula alami tidak ditemukan hubungan yang signifikan.

Pada penelitian terpisah, ditemukan bahwa mengonsumsi gula dalam bentuk cair jauh lebih buruk daripada mengonsumsi gula dalam bentuk padat. Hal ini sebagian karena otak tidak mencatat kalori gula cair seperti halnya kalori dari makanan padat.

Minum kalori tidak memberikan sinyal kenyang yang sama seperti memakannya. Ini berarti seseorang akan makan lebih banyak dan berisiko mengalami kenaikan berat badan.

Selain meningkatkan berat badan, kalori gula cair dapat meningkatkan kadar gula darah dan resistensi insulin yang dapat menyebabkan diabetes.



Ketua PERDOKHI: Pneumonia-Demensia Banyak Diidap Jemaah RI Saat Haji

Ketua PERDOKHI: Pneumonia-Demensia Banyak Diidap Jemaah RI Saat Haji


(vyp/vyp)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat